inkubator bisnis ukm perempuan -ismiyati roti bekatul Bosan Menjadi Karyawan Membuatku Jadi Wirausaha, Saya Ismiyati, biasa dipanggil Ismi. 4 tahun yg lalu saya masih seorang karyawan di sebuah dealer sepeda motor di kota semarang. Karier yg sudah mentok, gaji yang sudah tidak pernah naik 3 tahun terakhir membuat saya mulai memutar otak untuk mulai berusaha dan mengubah nasib. Bulan agustus 2011 dengan modal nekat aku yang tidak bisa bikin roti membuka SUPER ROTI dan uang simpanan 30 juta sebagai modal awal aku belikan 2 buah oven, 1 mixer bekas, dan membuat meja produksi, proofer serta lemari sendiri, sisanya aku pake buat beli bahan.
Karena saat itu aku belum resign aku mencari 1 orang baker,1 orang tukang oven dan 1 orang bag packing. Sales suamiku dan 1 orang temann-ya.
Awal produksi masih menyatu dengan dapur rumah tangga di Jl Bukit Kenanga III/D-376 Sendangmulyo Semarang, sehari hanya bisa membuat 10 kg terigu ato 400 pc roti.
Kondisi seperti itu berjalan hampir satu tahun, tanpa ada perubahan, dan aku berpikir kalo seperti ini terus dibiarkan tujuan awalku untuk merubah nasib tidak akan pernah tercapai.Dan aku memilih resign, keluar dari zona aman yang awalnya berpenghasilan tetap menjadi tetap berpenghasikan meskipun sedapatnya.
Keputusan ini ternyata sebuah keputusan yang luar biasa tepat,aku bisa fokus di usaha ini dsn sekarang mulai terlihat hasilnya.
Tidak perlu menunggu lama, satu tahun setelah aku resign, aku bisa membuat tempat produksi sendiri di Jl Batursari IV No 875 Sawah besar Semarang, di lahan seluas 7×25 meter inilah mimpiku kurajut. Karyawanku sekarang sudah 16 orang, kapasitas produksi sudah bisa tembus di 100 kg terigu sehari.

ukm perempuan - womanpreneur communityroti bekatul
Pemasaran masih di sekitar kota semarang, dengan sistem konsinyasi ato titip jual di toko-toko, dan ada juga retail modern.

Mungkin tidak ada yang punya cita-seperti itu dimasa kecilnya. Pengalamanku membuktikan bahwa di otak generasi kita hanya ada cita-cita menjadi guru, dokter, polisi dan tentara, serta profesi yang biasa ada disekitar mereka. Saat saya menjadi relawan pengajar Kelas Inspirasi di Kulon Progo Jogja dan Ngaliyan Semarang, saat aku tanya pada murid-muridku apa cita-cita mereka, itulah jawabannya. Saat aku berkata pada mereka, Ada yang ingin ndak menjadi pengusaha seperti Ibu, dan mereka hanya menggelengkan kepalanya.

Itulah tantangan…karena seorang wirausaha identik dengan orang-orang yang frustasi, kepepet tidak punya pekerjaan, timbang nganggur dan entah apalagi. Kembali ke saya, dari kecil ketika ditanya mau jadi apa, saya selalu berkata,”aku ingin punya pabrik roti”…karena waktu itu saya tidak tahu punya pabrik roti itu adalah seorang pengusaha. Hanya berdasar hobby dari kecil suka bikin kue. Sempat menjadi penyiar radio saat SMA hingga 4 tahun berikutnya, jadi buruh pabrik yang berangkat pagi pulang maghrib, agen asuransi, dan terakhir di sebuah dealer sepeda motor di semarang, mulai posisi kasir, spg, supervisor sales hingga terakhir kepala toko hingga 13 tahun. Ternyata panggilan jiwaku untuk menjadi seorang wirausaha tidak ada matinya. 4 tahun yang lalu, dengan modal semangat dan keyakinan aku mulai membuka sebuah bakery kecil-kecilan menyatu dengan dapur rumah tangga.
Aku tahu WPC sudah 2 tahun yang lalu, dan tertarik ikut IWPC 5 karena mengelola bisnis tidak cukup hanya bermodalkan nekat ala saya saja.

Bisnis itu ada ilmunya, bisnis itu ada seninya, dan aku berbisnis hanya secara naluriah saja.
Secara aku yang hanya lulusan S3 (SD,SMP dan SMA) keilmuan di IWPC aku perlukan.
Dan benar saja, aku memang sudah punya rencana bisnis, aku memang sudah menghitung HPP, aku memang sudah mempunyai pembukuan, tapi semuanya ‘ALA SAYA’
Dan di IWPC5 inilah saya sudah mendapatkan ilmunya, cara yang benar mengelola bisnis.
Dari sharring dengan mami Irma dan Bu Ellies yang excellent, aku mulai memetakan bisnisku, banyak masukan yang sudah saya dapatkan dan tujuan awal untuk menjadikan SUPER ROTI sebagai bakery yang TERDEPAN dalam INOVASI dan kaya akan muatan lokal, Insya Allah segera tercapai. Bulan depan harus sudah terealisasi ide bisnisku.
Tentu saja dengan tidak melupakan tujuan awal ku menja─Ći pengusaha yang sukses, tetap membumi, berguna bagi orang lain dan selalu berbagi.

Dan berjalannya waktu semakin aku tahu bahwa menjadi wirausaha itu nilai manfaatnya lebih besar. Kita ikut menghidupi keluarga karyawan kita, menyekolahkan anak karyawan kita.
Nilai manfaatnya lebih banyak, sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan saat menjadi karyawan biasa.
Berani menjadi Wirausaha?
Masih malu menjadi Wirausaha?
intinya…..SAYA BANGGA MENJADI WIRAUSAHA
#sayasukses
#iwpc5
#tetapsemangat
#menjadiberguna

Comments

comments

Share