Pelaku usaha kecil menengah (UKM) paling terdampak atas meluasnya penyebaran pandemi virus korona (covid-19). Arus kas atau cash flow pelaku usaha terganggu lantaran penjualan yang anjlok sementara pengusaha juga tetap harus membayar biaya operasional termasuk memberikan gaji karyawan.

“Sebagai pelaku usaha, diperlukan beberapa langkah untuk dapat bertahan. Perubahan pada pengaturan arus keuangan perusahaan perlu dilakukan untuk tetap dapat mempertahankan bisnis agar berkelanjutan pada kondisi sulit seperti saat ini,” ungkap wirausahawan Yasa Singgih dalam rilis yang diterima Medcom.id, Minggu, 19 April 2020.

Perubahan pengaturan arus keuangan salah satunya dengan melakukan efisiensi biaya dan mengalokasikan biaya non-operasional sebagai cadangan agar produksi bisa tetap berjalan. Dengan begitu kas perusahaan dapat digunakan untuk jangka waktu yang lebih panjang dalam menghadapi perubahan pasar.

Secara garis besar, Yasa membeberkan langkah dan tips kepada pelaku usaha untuk mempertahankan bisnis dalam menghadapi perubahan pasar seperti saat ini, di antaranya:

– Mengatur cash flow

Mengubah cara menjalankan bisnis, dari yang semula mode attack menjadi mode survival. Upaya yang dilakukan mulai dari efisiensi biaya untuk kegiatan branding, menunda kegiatan ekspansi perusahaan, hingga menunda campaign Lebaran.

Dalam internal perusahaan, diberlakukan unpaid leave, pemotongan gaji bagi beberapa karyawan, hingga tidak mengambil gaji bagi dirinya sendiri sebagai pimpinan. Langkah tersebut dibutuhkan untuk menjaga cash flow jangka panjang mengingat tidak adanya kepastian kapan pandemi akan berakhir.

– Berempati dan menjaga komunikasi

Menurut Yasa yang terpenting dalam menjalankan bisnis adalah bukan hanya sekadar untung tetapi juga menyediakan apa yang dibutuhkan oleh konsumen. Misalnya, memproduksi dan menjual masker dan mengkomunikasikan kepada pelanggan bahwa dengan membeli produk tersebut mereka telah membantu para pengrajin untuk tetap dapat bertahan hidup, dan juga membantu masyarakat agar mudah mendapatkan pasokan masker.

Secara aktif menginformasikan apa yang perusahaan lakukan untuk mencegah penularan virus seperti melakukan penyemprotan disinfektan pada gudang dan pengecekan suhu tubuh pekerja. Hal tersebut dilakukan guna mempertahankan kepercayaan konsumen bahwa perusahaan peduli terhadap kondisi saat ini.

– Pengaturan karyawan

Memberlakukan Working from Home (WfH) dan mewajibkan karyawannya untuk mengisi aplikasi update pekerjaan guna menjaga produktivitas perusahaan. Pelaku bisnis juga perlu untuk membuat rencana harian dengan minimal enam aktivitas yang harus dilakukan mulai dari yang paling prioritas, atau yang dapat memberikan pemasukan bagi perusahaan.

– Strategi marketing yang baru

Selama masa pandemi ini, terjadi pergeseran kebutuhan di dalam masyarakat. Mereka cenderung akan mengesampingkan hal-hal sekunder, seperti kebutuhan fesyen, termasuk sepatu. Memberikan potongan harga untuk semua produk adalah salah satunya.

Keputusan membeli konsumen ditentukan oleh logika sebesar 20 persen dan emosional sebesar 80 persen. Konsumen terdorong untuk membeli sesuatu yang memiliki nilai lebih.

Oleh karena itu, perusahaan perlu untuk memaksimalkan aspek emosional pembeli. Pada kondisi saat ini, perusahaan dapat menyentuh aspek emosional pembeli dengan mendonasikan sebagian hasil penjualan untuk penanganan covid-19 di Indonesia.

Saran lainnya, menjadikan karyawan yang merupakan cost center menjadi profit center. Perusahaan dapat menjadikan setiap karyawan sebagai sales dengan memberikan database pelanggan untuk dihubungi sehingga perusahaan dapat menjangkau lebih banyak konsumen.

– Memanfaatkan layanan perbankan

Para pelaku usaha dituntut harus mampu memanfaatkan layanan-layanan perbankan daring secara optimal. “Tidak sedikit perbankan yang menawarkan layanan-layanan semacam ini yang akan memudahkan para pelaku usaha dalam menjalankan bisnisnya,” tutup Yasa.

Comments

comments

Share