{"id":3668,"date":"2021-04-21T12:34:44","date_gmt":"2021-04-21T12:34:44","guid":{"rendered":"http:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/?p=3668"},"modified":"2021-04-21T13:12:40","modified_gmt":"2021-04-21T13:12:40","slug":"hari-kartini","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/hari-kartini\/","title":{"rendered":"Hari Kartini"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-color has-very-dark-gray-color\">Raden Adjeng Kartini\u00a0(lahir di\u00a0Jepara,\u00a0Hindia Belanda,\u00a021 April 1879\u00a0\u2013meninggal di\u00a0Rembang,\u00a0Hindia Belanda,\u00a017 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut\u00a0Raden Ayu\u00a0Kartini  adalah seorang tokoh\u00a0Jawa\u00a0dan\u00a0Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan\u00a0Pribumi-Nusantara. <\/p>\n\n\n\n<p>Pada masa itu, belum banyak perempuan yang dapat mengenyam pendidikan. Tidak seperti saat ini, baik laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam memperoleh pendidikan. Hingga usia 12 tahun, RA Kartini akhirnya memperoleh pendidikan di Europes Lagere School (ELS), dan semua murid di sekolah ini diwajibkan berbahasa Belanda.\u00a0Namun, tradisi Jawa menghentikan langkah putri Jawa itu mengenyam pendidikan di sekolah.<\/p>\n\n\n\n<p>Sebab, menurut tradisi, anak perempuan harus tinggal di rumah sejak usia 12 tahun hingga menikah. Kendati tak lagi bersekolah, keinginan Kartini untuk melanjutkan pendidikan, masih sangat kuat. Ia tak pernah berhenti belajar, membaca dan menulis. Bahkan, di masa itu, Kartini turut berperan membangun kemandirian para perempuan, dengan mengajar membatik para abdi dan gadis-gadis kecil, hingga membuka sekolah kerajinan putri di kabupaten khusus putri bangsawan kota itu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-color has-very-dark-gray-color\">Dalam periode tahun 1896 hingga 1903, RA Kartini menuangkan pemikirannya dalam tulisan yang dimuat di majalah perempuan di Belanda. Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.\u00a0Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh\u00a0kebangkitan nasional\u00a0Indonesia, antara lain W.R. Soepratman\u00a0yang menciptakan lagu berjudul &#8220;Ibu Kita Kartini&#8221;. Lagu tersebut menggambarkan inti perjuangan wanita untuk merdeka. <\/p>\n\n\n\n<p>Sumber: www.compas.com,id.wikipedia.org<\/p>\n\r\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Raden Adjeng Kartini\u00a0(lahir di\u00a0Jepara,\u00a0Hindia Belanda,\u00a021 April 1879\u00a0\u2013meninggal di\u00a0Rembang,\u00a0Hindia Belanda,\u00a017 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut\u00a0Raden Ayu\u00a0Kartini adalah seorang tokoh\u00a0Jawa\u00a0dan\u00a0Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan\u00a0Pribumi-Nusantara. Pada masa itu, belum banyak perempuan yang dapat mengenyam pendidikan. Tidak seperti saat ini, baik laki-laki dan perempuan memiliki kedudukan yang sama dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3669,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"sfsi_plus_gutenberg_text_before_share":"","sfsi_plus_gutenberg_show_text_before_share":"","sfsi_plus_gutenberg_icon_type":"","sfsi_plus_gutenberg_icon_alignemt":"","sfsi_plus_gutenburg_max_per_row":"","ngg_post_thumbnail":0,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-3668","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3668","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3668"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3668\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3672,"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3668\/revisions\/3672"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3669"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3668"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3668"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/womanpreneur-community.com\/blog\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3668"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}